PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN
Sistem pembelajaran yang berlaku di
Indonesia di antaranya melalui tatap muka dan belajar jarak jauh yang dikenal
dengan sistem belajar jarak jauh. Kedua sistem pembelajaran tersebut menerapkan
berbagai teori belajar. Hal ini disebabkan dalam suatu kegiatan pembelajaran
jarang menggunakan hanya satu teori belajar saja.
Dengan menggunakan contoh pembelajaran
pada suatu Institusi Pendidikan di Indonesia dengan sistem belajar tatap muka
dan sistem belajar jarak jauh, coba kajilah pada kegiatan pembelajaran manakah
yang dapat menggunakan atau dikembangkan berdasarkan teori belajar behavioristik, teori belajar kognitif, teori belajar sosial, dan teori belajar humanistik.
Pada era digital saat ini banyak
pembelajaran menggunakan berbagai sumber belajar termasuk pemanfaatan open educational resources (OER) yang
dapat diakses melalui situs atau web tertentu. Bagaimana tanggapan Anda dengan
pembelajaran tersebut ditinjau dari teori belajar dan teori pembelajaran, serta
bagaimana semestinya pembelajaran pada era digital itu dirancang.
Pendidikan adalah proses interaksi antara guru, siswa,
dan bahan ajar. Proses antara guru dan siswa dapat dilakukan cara tatap muka
maupun jarak jauh dengan memanfaatkan berbagai perkembangan teknologi computer,
informasi, dan komunikasi (KIK). Dalam praktek pembelajaran tentunya tetap
mengacu tidak hanya pada satu teori saja
karena masing-masing teori memiliki kelebihan dan kekurangan.
A.
Pengembangan Sistem Belajar Tatap Muka
Pengertian sistem belajar tatap muka
adalah proses pembelajaran dimana dalam mempelajari materi tertentu guru dan
siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Pada proses tersebut terjadi
interaksi antara guru dan siswa, permasalahan yang muncul dalam pembelajaran
dapat ditanyakan langsung pada guru.
Ditinjau dari segi pengorganisasian siswa, sistem
belajar tatap muka dibagi menjadi tiga:
1. Pembelajaran secara individual
Pembelajaran individual adalah
pembelajaran yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar
kepada masing-masing individu .
Ciri-ciri utama pada pembelajaran
individual dapat dilihat dari beberapa hal.
a.
Pencapain
tujuan pengajaran
Pencapaian tujuan pengajaran pada
pengajaran individual tergantung pada kemampuan individual siswa. Awal
pelajaran dimulai dari kemapuan yang sudah ada pada individu. Kemampuan
tersebut dikembangkan secara optimal.
b.
Peranan siswa
dan guru
Dalam pembelajaran individual siswa
merupakan titik sentral dalam pelayan pembelajaran. Siswa memiliki
keleluasaan dalam beberapa hal seperti menggunakan waktu belajar, mengontrol
kecepatan dan intensitas belajar, dan menyusun jadwal belajar sendiri.
c.
Peanan guru
dalam pembelajaran individual adalah program yang disusun sedemikian rupa
sehingga dapat digunakan secara mandiri degan bantuan yang sangat minim
dari guru.Bentuknya antara lain berupa modul, paket belajar, pengajaran
berprogram, dan pengajaran berbantuan computer. Program belajar individual
berorientasi pada pemberian fasilitas pada setiap siswa agar siswa dapat
belajar secara mandiri.Kemandirian dalam belajar sesuai dengan tuntutan
perkembangan individu.
2. Pembelajaran secara kelompok
Dalam proses belajar mengajar di kelas
adakalanya guru membentuk siswa menjadi kelompok kecil beranggota 4-8 orang
siswa.Dalam pembelajaran kellompok ini guru dapat memberikan bimbingan intensif
kepada anggota kelompok dan dapat lebih akrab dengan siswa, sementara siswa
terlihat aktif dalam kelompok.
Ciri yang nampak dari pembelajaran kelompok ini dapat dilihat
dari beberapa aspek
a.
Pencapaian
tujuan pengajaran
Pencapaian tujuan pengajaran pada
pembelajaran kelompok dapat dicapai melalui proses kerja kelompok. Pembagian
kerja untuk masing-masing anggota memupuk rasa tanggung jawab dari siswa .Siwa
dilatih agar mampu memecahkan masalah secara rasional dalam kelompok yang
dinamis.
b.
Peranan guru
dan siswa
Dalam pembelajaran kelompok siswa adalah anggota kelompok
belajar yang solid dalam memcahkan masalah kelompok. Ciri –ciri yang menonjol
dari kelompok adalah adanya kesadaran bersama untuk mewujudkan tujuan kelompok,
adanya saling tergantung dan saling membutuhkan, interaksi antar anggota dan
tindakan bersama sebagai perwujudann tanggung jawab kelompok.
c.
Peranan guru
dalam pembelajaran kelompok terutama sekali adalah memberikan perhatian kepada
semangat kerja kelompok.Oleh sebab itu guru perlu memperhatikan
tentang bagaimana membentuk kelompok, perencanaan tugas tiap-tiap
kelompok, perencanaan tugas tiap-tiap kelompok, mengawasi pelaksanaan, dan mengawasi
pelaksanaan, dan mnengevaluasi hasil belajar kelompok.
3. Pembelajaran secara Klasikal
Pengajaran klasikal merupakan
pengajaran yang paling praktis untuk sekolah konvensional dimana seorang guru
menghadapi siswa yang jumlahnya mencapai empat puluhan .Walaupun demikian,
pembelajaran klasikal menuntut kemepuan guru sekaligus dalam dua
hal yaitu mengelola kelas dan mengelola pembelajaran.
Dilihat dari pengertian di atas maka
pembelajaran tatap muka bisa dikembangkan dengan pendekatan teori belajar
kognitif dan pendekatan teori belajar sosial.
Alasannya:
a. Teori perkembangan
kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : Bahasa dan cara berfikir anak
berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan
bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak-anak akan belajar lebih baik
apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar
dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Bahan yang harus
dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Berikan peluang
agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di dalam kelas, anak-anak
hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan
teman-temanya.
b. Teori belajar sosial
menghasilkan proses dan hasil belajar yang responsif terhadap keberagaman
lingkungan peserta didik. Dalam kontek Indonesia yang multikultural baik dalam
budaya, suku, dan agama, dperlukan pemahaman yang jelas dan utuh terhadap
fenomena multikultural ini serta implikasinya terhadap pembelajaran, baik di
kelas dan di luar kelas.
c. Prinsip dasar belajar hasil temuan
Bandura termasuk belajar sosial dan moral. Menurut Barlow (1985), sebagian
besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan
penyajian contoh perilaku (modelling). Dalam hal ini seorang siswa
belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang atau
sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah stimulus tertentu. Siswa juga
dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku
contoh dari orang lain.
B.
Pengembangan Sistem Belajar Jarak Jauh
Pembelajaran jarak
jauh, atau disebut juga belajar mandiri adalah pembelajaran dimana guru dan siswa tidak berinteraksi langsung
dalam kelas secara fhisik. Pembelajaran berlangsung melalui bahan-bahan pembelajaran yang dicari
sendiri, belajar sendiri, tidak selalu bertatap muka dengan pengajar dan juga rekan yang lain. Siswa
bebas mempelajari sesuatu subjek mengikut selera ataupun kaedah masing-masing tanpa
tergantung kehadiran guru. Lebih hemat waktu, mandiri, dan bersifat
otonom dalam memilih dan menentukan belajar sendiri.
Sistem pendidikan jarak jauh memiliki
ciri-ciri :
a. Keterpisahan secara fhisik antara pengajar dan
peserta didik.
b. Menekankan fleksibelitas peserta didik untuk
memilih apa yang akan dipelajari dan cara untu mempelajarinya
c. Peserta didik lebih mandiri
d. Lebih mudah bagi masyarakat yang sudah bekerja.
e. Lebih demokratis
Dilihat dari pengertian di atas maka
pembelajaran jarak jauh lebih tepat dikembangakan dengan pendekatan teori belajar humanistik.
Alasannya :
1.
Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan
positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan
menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal
ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri
yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga
masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini
menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan
keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat
laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar
ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari
sudut pandang pengamatnya.
2.
Peran pendidik adalah sebagai seorang fasilitator, hanya membantu siswa
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.Artinya siswa bebas dan memiliki kecenderungan
untuk tumbuh dan berkembang mencapai aktualisasi diri. Indikator
keberhasilan dari teori ini adalah : Siswa senang, bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir siswa, serta meningkatnya
kemauan sendiri.
3.
Perwujudan
kemandirian dan otonomi peserta didik sejalan dengan aspek yang berusaha dikembangkan
dalam teori belajar humanistik yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
C.
Analisis Kesenjangan
Kesenjangan
antara kenyataan yang terjadi di sekolah-sekolah dengan kondisi ideal serta kurikulum yang berlaku di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama
di sekolah tersebut berdasarkan ketujuh aspek pendidikan menurut
teori belajar humanistik.
1.
Kondisi
ideal :
a. Mengembangkan pembelajaran jarak jauh dengan system mengajar online memerlukan sarana
dan prasarana yang memadai, harus
ada jaringan internet yang kuat dan handal.
b.
Keunggulan global
dikembangkan berupa kemampuan berbahasa Inggris dan pengoperasian komputer
hingga pemanfatan internet.
c.
Jumlah siswa sesuai kapasitas
kelas, 20 siswa.
d.
Sekolah memiliki sarana memadai, lingkungan rindang
dan nyaman, keadaan lapangan yang nyaman.
e.
Keunggulan lokal
dikembangkan berdasarkan kondisi
masyarakat yang pada umumnya sebagai
pengguna alat elektronika.
2.
Kondisi
nyata
a. Jaringan internet belun sepenuhnya menjangkau
sekolah sehingga kesulitan mengakses informasi melalui internet. Berbagai upaya
dilakuan termasuk internet dengan antena penguat modem.
b.
Jumlah
siswa yang melebihi kapasitas kelas, menyulitkan guru dalam mengamati dan melayani perkembangan personal
siswa dan prilaku kreatif siswa.
c.
Kebanyakan
sekolah tidak memiliki sarana
memadai/ keadaan lapangan yang tidak
nyaman untuk dipakai dalam menunjang kegiatan-kegiatan diluar kelas
untuk meciptakan pengalaman belajar.
d. Keunggulan lokal yang
dikembangkan berdasarkan kondisi
masyarakat yang pada umumnya sebagai
sebagai pengguna alat elektronika masih belun tercukupi
disekolah untuk pengembangan muatan lokal pendidikan
keterampilan elektronika. Sehingga
belum mampu menjangkau kebutuhan siswa dalam memilih disiplin ilmu yang
disukai.
D.
Pengembangan Pembelajaran di Era Digital
Pada era digital pemanfaatan open educational resources (OER) yang
dapat diakses melalui situs atau web adalah upaya yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia.
Adapun alasannya:
1.
Sebagai upaya mengejar ketertinggalan dan peserta didik dapat
terhubung dengan dunia luar untuk memperluas pengalamam belajar.
2.
Perkembangan teknologi informasi mengalami kemajuan yang
sangat pesat. hampir semua sendi kehidupan di pelosok tanah air dikuasai oleh
oleh teknologi informasi. Sehingga perlu pengembangan pembelajaran melalui digital yang banyak menggunakan berbagai sumber
belajar sehingga proses pembelajaran menjadi semakin menarik.
3.
Sebagai
bentuk dukungan pasal 79 ayat 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012
Tentang Pendidikan Tinggi (Pemerintah mengembangkan sumber pembelajaran terbuka yang
dapat dimanfaatkan oleh seluruh Sivitas Akademika)
Pembelajaran pada era digital itu harus dirancang dengan
baik, diantaranya:
1.
Kurikulum harus diarahkan pada minat dan kebutuhan peserta
didik dan membuka peluang keterlibatan
peserta didik secara utuh.
2.
Menanfaatkan dan menerapkan berbagai media untuk pemgganti
peran interaksi tatap muka
3.
Mengembangkan
sistem pembelajaran online yaitu dengan menggunakan aplikasi LMS
(Learning manajemen Sistem) yaitu sebuah perangkat untuk membuat materi
pembelajaran berbasis web yang mengelolah kegiatan pembelajaran beserta
hasilnya dan menfasilitasi interaksi antar guru dan siswa, antar guru dan guru,
dan antar siswa dengan siswa.