Minggu, 28 Februari 2016

PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN

PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN

Sistem pembelajaran yang berlaku di Indonesia di antaranya melalui tatap muka dan belajar jarak jauh yang dikenal dengan sistem belajar jarak jauh. Kedua sistem pembelajaran tersebut menerapkan berbagai teori belajar. Hal ini disebabkan dalam suatu kegiatan pembelajaran jarang menggunakan hanya satu teori belajar saja.
Dengan menggunakan contoh pembelajaran pada suatu Institusi Pendidikan di Indonesia dengan sistem belajar tatap muka dan sistem belajar jarak jauh, coba kajilah pada kegiatan pembelajaran manakah yang dapat menggunakan atau dikembangkan berdasarkan teori belajar  behavioristik, teori belajar kognitifteori belajar sosial, dan teori belajar humanistik.
Pada era digital saat ini banyak pembelajaran menggunakan berbagai sumber belajar termasuk pemanfaatan open educational resources (OER) yang dapat diakses melalui situs atau web tertentu. Bagaimana tanggapan Anda dengan pembelajaran tersebut ditinjau dari teori belajar dan teori pembelajaran, serta bagaimana semestinya pembelajaran pada era digital itu dirancang.
Pendidikan adalah proses interaksi antara guru, siswa, dan bahan ajar. Proses antara guru dan siswa dapat dilakukan cara tatap muka maupun jarak jauh dengan memanfaatkan berbagai perkembangan teknologi computer, informasi, dan komunikasi (KIK). Dalam praktek pembelajaran tentunya tetap mengacu tidak hanya pada  satu teori saja karena masing-masing teori memiliki kelebihan dan kekurangan.

A.      Pengembangan Sistem Belajar Tatap Muka
Pengertian sistem belajar tatap muka adalah proses pembelajaran dimana dalam mempelajari materi tertentu guru dan siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Pada proses tersebut terjadi interaksi antara guru dan siswa, permasalahan yang muncul dalam pembelajaran dapat ditanyakan langsung pada guru.
Ditinjau dari segi pengorganisasian  siswa, sistem belajar tatap muka dibagi menjadi tiga:
1.    Pembelajaran secara individual
Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar  kepada masing-masing individu .

Ciri-ciri utama pada pembelajaran individual dapat dilihat dari beberapa hal.
a.         Pencapain tujuan pengajaran
Pencapaian tujuan pengajaran pada pengajaran individual tergantung pada kemampuan individual siswa. Awal pelajaran dimulai dari kemapuan yang sudah ada pada individu. Kemampuan tersebut dikembangkan secara optimal.
b.        Peranan siswa dan guru
Dalam pembelajaran individual siswa merupakan titik sentral dalam pelayan pembelajaran. Siswa memiliki  keleluasaan dalam beberapa hal seperti menggunakan waktu belajar, mengontrol kecepatan dan intensitas belajar, dan menyusun jadwal belajar sendiri.
c.         Peanan guru dalam pembelajaran individual adalah program yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat digunakan secara mandiri degan bantuan  yang sangat minim dari guru.Bentuknya antara lain berupa modul, paket belajar, pengajaran berprogram, dan pengajaran berbantuan computer. Program belajar individual berorientasi pada pemberian fasilitas pada setiap siswa agar siswa dapat belajar secara mandiri.Kemandirian dalam belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan individu.
2.    Pembelajaran secara kelompok
Dalam proses belajar mengajar di kelas adakalanya guru membentuk siswa menjadi kelompok kecil beranggota 4-8 orang siswa.Dalam pembelajaran kellompok ini guru dapat memberikan bimbingan intensif kepada anggota kelompok dan dapat lebih akrab dengan siswa, sementara siswa terlihat aktif dalam kelompok.

Ciri yang nampak dari pembelajaran kelompok ini dapat dilihat dari beberapa aspek
a.         Pencapaian tujuan pengajaran
Pencapaian tujuan pengajaran pada pembelajaran kelompok dapat dicapai melalui proses kerja kelompok. Pembagian kerja untuk masing-masing anggota memupuk rasa tanggung jawab dari siswa .Siwa dilatih agar mampu memecahkan masalah secara rasional dalam kelompok yang dinamis.
b.        Peranan guru dan siswa
Dalam pembelajaran kelompok siswa adalah anggota kelompok belajar yang solid dalam memcahkan masalah kelompok. Ciri –ciri yang menonjol dari kelompok adalah adanya kesadaran bersama untuk mewujudkan tujuan kelompok, adanya saling tergantung dan saling membutuhkan, interaksi antar anggota dan tindakan bersama sebagai perwujudann tanggung jawab kelompok.
c.         Peranan guru dalam pembelajaran kelompok terutama sekali adalah memberikan perhatian kepada semangat kerja kelompok.Oleh sebab itu guru  perlu memperhatikan tentang  bagaimana membentuk kelompok, perencanaan tugas tiap-tiap kelompok,  perencanaan tugas tiap-tiap kelompok, mengawasi pelaksanaan, dan mengawasi pelaksanaan, dan mnengevaluasi hasil belajar kelompok.
3.    Pembelajaran secara Klasikal
Pengajaran klasikal merupakan pengajaran yang paling praktis untuk sekolah konvensional dimana seorang guru menghadapi siswa yang jumlahnya mencapai empat puluhan .Walaupun demikian, pembelajaran klasikal  menuntut kemepuan guru  sekaligus dalam dua hal yaitu mengelola kelas dan mengelola pembelajaran.

Dilihat dari pengertian di atas maka pembelajaran tatap muka bisa dikembangkan dengan pendekatan teori belajar kognitif dan pendekatan teori belajar sosial.
Alasannya:
a.    Teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
b.    Teori belajar sosial menghasilkan proses dan hasil belajar yang responsif terhadap keberagaman lingkungan peserta didik. Dalam kontek Indonesia yang multikultural baik dalam budaya, suku, dan agama, dperlukan pemahaman yang jelas dan utuh terhadap fenomena multikultural ini serta implikasinya terhadap pembelajaran, baik di kelas dan di luar kelas.
c.    Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk belajar sosial dan moral. Menurut Barlow (1985), sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modelling). Dalam hal ini seorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang atau sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah stimulus tertentu. Siswa juga dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain.

B.       Pengembangan Sistem Belajar Jarak Jauh
Pembelajaran jarak jauh, atau disebut juga belajar mandiri adalah  pembelajaran dimana guru dan siswa tidak berinteraksi langsung dalam kelas secara fhisik. Pembelajaran berlangsung melalui bahan-bahan pembelajaran yang dicari sendiri, belajar sendiri, tidak selalu bertatap muka dengan pengajar dan juga rekan yang lain. Siswa bebas mempelajari sesuatu subjek mengikut selera ataupun kaedah masing-masing tanpa tergantung kehadiran guru.  Lebih hemat waktu, mandiri, dan bersifat otonom dalam memilih dan menentukan belajar sendiri.
Sistem pendidikan jarak jauh memiliki ciri-ciri :
a.    Keterpisahan secara fhisik antara pengajar dan peserta didik.
b.    Menekankan fleksibelitas peserta didik untuk memilih apa yang akan dipelajari dan cara untu mempelajarinya
c.    Peserta didik lebih mandiri
d.   Lebih mudah bagi masyarakat yang sudah bekerja.
e.    Lebih demokratis

Dilihat dari pengertian di atas maka pembelajaran jarak jauh lebih tepat dikembangakan  dengan pendekatan teori belajar humanistik.
Alasannya :
1.        Pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
2.        Peran pendidik adalah sebagai seorang fasilitator, hanya membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.Artinya siswa bebas dan memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang mencapai aktualisasi diri. Indikator keberhasilan dari teori ini adalah : Siswa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir siswa, serta meningkatnya kemauan sendiri.
3.        Perwujudan kemandirian dan otonomi peserta didik sejalan dengan aspek yang berusaha dikembangkan dalam teori belajar humanistik yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

C.      Analisis Kesenjangan
Kesenjangan antara kenyataan yang terjadi di sekolah-sekolah dengan kondisi ideal serta kurikulum yang berlaku di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama di sekolah tersebut berdasarkan ketujuh aspek pendidikan menurut teori belajar humanistik.

1.        Kondisi ideal :
a.     Mengembangkan pembelajaran jarak jauh dengan system mengajar online memerlukan sarana dan prasarana yang memadai, harus ada jaringan internet yang kuat dan handal.
b.     Keunggulan global dikembangkan berupa kemampuan berbahasa Inggris dan pengoperasian komputer hingga pemanfatan internet.
c.     Jumlah siswa sesuai kapasitas kelas, 20 siswa.
d.    Sekolah memiliki sarana memadai, lingkungan rindang dan nyaman, keadaan lapangan yang nyaman.
e.     Keunggulan lokal dikembangkan berdasarkan kondisi  masyarakat yang pada umumnya sebagai pengguna alat elektronika.

2.        Kondisi nyata
a.     Jaringan internet belun sepenuhnya menjangkau sekolah sehingga kesulitan mengakses informasi melalui internet. Berbagai upaya dilakuan termasuk internet dengan antena penguat modem.
b.     Jumlah siswa yang melebihi kapasitas kelas, menyulitkan guru dalam mengamati dan melayani perkembangan personal siswa dan prilaku kreatif siswa.
c.     Kebanyakan sekolah tidak memiliki sarana memadai/ keadaan lapangan yang tidak nyaman untuk dipakai dalam menunjang kegiatan-kegiatan diluar kelas untuk meciptakan pengalaman belajar.
d.    Keunggulan lokal yang dikembangkan berdasarkan kondisi  masyarakat yang pada umumnya sebagai sebagai pengguna alat elektronika masih belun tercukupi disekolah untuk pengembangan muatan lokal pendidikan keterampilan elektronika. Sehingga belum mampu menjangkau kebutuhan siswa dalam memilih disiplin ilmu yang disukai.

D.      Pengembangan Pembelajaran di Era Digital
Pada era digital pemanfaatan open educational resources (OER) yang dapat diakses melalui situs atau web adalah upaya yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia.
Adapun alasannya:
1.         Sebagai upaya mengejar ketertinggalan dan peserta didik dapat terhubung dengan dunia luar untuk memperluas pengalamam belajar.   
2.         Perkembangan teknologi informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. hampir semua sendi kehidupan di pelosok tanah air dikuasai oleh oleh teknologi informasi. Sehingga perlu pengembangan pembelajaran melalui  digital yang banyak menggunakan berbagai sumber belajar sehingga proses pembelajaran menjadi semakin menarik.
3.         Sebagai bentuk dukungan pasal 79 ayat 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi (Pemerintah mengembangkan sumber pembelajaran terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh Sivitas Akademika)

Pembelajaran pada era digital itu harus dirancang dengan baik, diantaranya:
1.         Kurikulum harus diarahkan pada minat dan kebutuhan peserta didik dan membuka peluang keterlibatan  peserta didik secara utuh.
2.         Menanfaatkan dan menerapkan berbagai media untuk pemgganti peran interaksi tatap muka
3.         Mengembangkan sistem pembelajaran online yaitu dengan  menggunakan aplikasi LMS (Learning manajemen Sistem) yaitu sebuah perangkat untuk membuat materi pembelajaran berbasis web yang mengelolah kegiatan pembelajaran beserta hasilnya dan menfasilitasi interaksi antar guru dan siswa, antar guru dan guru, dan antar siswa dengan siswa.


MENGEMBANGKAN RUMUSAN MASALAH
DAN DESAIN PENELITIAN
Oleh:
Zainal Huda
NIM: 500649756


KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Pada kesempatan kali ini saya membahas masalah mengembangkan rumusan masalah dan desain penelitian. Dalam makalah ini membahas: 1) Rumusan Masalah. 2) Hipotesis Penelitian. 3) Metode Penelitian Prosedur Penelitian. 4). Desain Penelitian
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna maka, saya sangat mengharapkan kritik ataupun saran yang dapat membangun demi kesempurnaan karya tulis ini.
Selanjutnya penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya para pendidik dan mahasiswa.
Akhir kata, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis, khususnya pada seluruh stakeholder yang terlibat dan telah membantu sepanjang penyelesaian makalah ini. Semoga Allah SWT membalas budi baik kita semua, Amin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Penulis
A.         Latar Belakang
Ada hal kecil yang mungkin tidak disadari tetapi sangat berpengaruh pada proses peningkatan prestasi belajar siswa. Hal kecil itu adalah “Ruang Kelas”. Ruang kelas merupakan tempat dimana para siswa menyerap ilmu sekaligus merupakan rumah kedua bagi seorang siswa dalam belajar. Tidak menutup kemungkinan jika ruang kelas itu nyaman, indah, bersih dan kondusif dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar siswa. Seperti kata pepatah “Place is heart” (tempat adalah hati).
Jadi tempat itu berpengaruh besar pada kondisi seseorang dalam mengkondisikan dirinya ditempa di mana ia berada. Seorang siswa yang belajar dalam ruang kelas yang bersih, nyaman, indah dan kondusif cenderung memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Ruang kelas itu dijadikan sebagai tempat yang paling menyenangkan dalam belajar sehingga diyakini dapat menimbulkan motivasi belajar bagi siswa. Jika motivasi belajar siswa tinggi maka proses pembelajaran akan kondusif, sehingga prestasi hasil belajar siswa dapat diraih dengan baik. Namun sebaliknya jika ruangan kelas berserakan, kotor, dan gaduh, tentunya proses pembelajaran akan terhambat sehingga prestasi siswa menurun.

B.         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1.         Apakah pengelolaan ruang kelas dapat meningkatkan motivasi belajar siswa SDN 7 Kajarharjo Kecamatan Kalibaru Kabupaten Banyuwang?
2.         Apakah pengelolaan ruang kelas dapat meningkatkan meningkatkan prestasi belajar?
Rumusan masalah tersebut berasal dari masalah guru yang mengajar tentang apa yang sebenarnya terjadi di kelas, maka permasalahan yang ditemukan dalam aspek-aspek pembelajaran adalah:
~        Suasana kelas yang kurang mendukung kelancaran proses belajar mengajar.
~        Metode pembelajaran yang kurang tepat untuk membahas pokok/bahasan/kajian.

C.         Hipotesis Penelitian
Bertolak dari permasalahan dan kerangka berpikir yang didasarkan pada kajian teoretis dan temuan empiris, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.         Pengelolaan ruang kelas dapat peningkatan motivasi belajar siswa kelas V SDN 7 Kajarharjo Kecamatan Kalibaru kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2014/2015
2.         Pengelolaan ruang kelas dapat peningkatan prestasi belajar siswa kelas V SDN 7 Kajarharjo Kecamatan Kalibaru kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2014/2015

Hipotesis dirumuskan berdasarkan pada rumusan masalah di atas dan sudah merupakan suatu pandangan dari peneliti tentang solusi terhadap masalah yang diangkat dalam kegiatan penelitian ini yakni, suasana kelas yang kurang mendukung kelancaran proses belajar mengajar dan metode pembelajaran yang kurang tepat untuk membahas pokok/bahasan/kajian.
Selain itu hipotesis merupakan kesimpulan sementara dari masalah yang ada, yang nantinya masih harus dibuktikan kebenarannya. 
Adapun fungsi dari hipotesis adalah sebagai landasan atau patokan untuk menentukan sumber data, termasuk jenis-jenis data yang diperlukan.
Menurut Kerlinger, ada dua kriteria tentang hipotesis yang baik, yakni: hipotesis merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih dalam penelitian, dan hipotesis dapat diuji secara empirik.

D.         Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif, metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Metode penelitian, dirancang dengan kegiatan yang bisa memberikan jawaban yang benar terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian. Penelitian kuantitatif

E.          Prosedur Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, pada hakikatnya mengikuti desain penelitian yang sudah dikemukakan sebelumnya. Adapun proses pelaksanaan penelitian ini adalah:
1. Tahap perencanaan.
Berdasarkan identifikasi masalah yang dilakukan pada tahapan pra-PTK, rencana tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis yang telah ditentukan. Rencana tindakan tersebut mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Rencana keperluan pelaksanaan tindakan mulai dari materi/bahan ajar, rencana pembelajaran yang mencakup metode/teknik mengajar, serta teknik dan instrumen observasi/evaluasi dipersiapkan dengan matang pada tahap perencanaan. Dalam tahap perencanaan ini dirancang rencana pembelajaran dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), baik pada prasiklus, siklus I, dan siklus II.

2. Tahap pelaksanaan tindakan.
Tahap tindakan merupakan implementasi (pelaksanaan) dari semua rencana yang telah dibuat. Tahapan yang berlangsung di kelas ini merupakan realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru tentu saja mengacu pada kurikulum yang berlaku dan hasilnya diharapkan berupa peningkatan keefektifan proses pembelajaran yang bermuara pada peningkatan mutu hasil belajar peserta didik. Pada tahapan ini, RPP pada prasiklus, siklus I, dan siklus II digunakan sebagai acuan pembelajaran di kelas.

3. Tahap pengamatan.
Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Pada tahapan ini, data tentang pelaksanaan tindakan dari rencana yang sudah dibuat serta dampaknya terhadap proses dan hasil pembelajaran dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang telah dikembangkan. Tahap ini juga perlu mempertimbangkan penggunaan beberapa jenis instrumen demi kepentingan triangulasi data.
Instrumen pengamatan terhadap Pelaksanaan pembelajaran dengan media audiovisual meliputi dua tahap pelaksanaan/pertemuan dalam satu siklus. Setiap pertemuan menggunakan waktu selama 2 x 35 menit. Pelaksanaan tindakan pembelajaran dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini.

F.          Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan bersifat siklustis (cycle),. Menurut Kemmis dan McTaggart (1988), dalam suatu siklus PTK terdiri atas tahapan-tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi. Karena penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, maka desainnya dapat digambarkan sebagai berikut.                                       
Daftar Pustaka
Wibawa Basuki,Mahdiyah, Afgani Jarkawi, 2014. Metode Penelitian Pendidikan.
Universitas Terbuka
Asrori Muhammad, 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Wacana Prima